KISAH NABI MUHAMMAD DI MALAM LAILATUL QADAR

Tulisan oleh : DINDA ARUM PUSPITA

Dinda Arum Puspita-Siswi Kelas 5 MI Al-Hikmah Jonggol

Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu malam yang sangat dinantikan oleh umat Islam, karena sejumlah keutamaan yang ada pada malam mulia tersebut. Lantas, seperti apa kisah Rasulullah SAW ketika malam Lailatul Qadar?
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang sangat mulia karena pada malam ini Allah SWT menurunkan Al-Quran dari Lauh Al-Mahfudz ke langit dunia atau Baitul Izzah. Selain itu, pada malam Lailatul Qadar lebih baik dari pada seribu bulan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Qs. Al-Qadr sebagai berikut:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Latin: Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr. Wa mā adrāka mā lailatul-qadr. Lailatul-qadri khairum min alfi syahr. Tanazzalul-malā’ikatu war rūḥu fīhā bi’iżni rabbihim min kulli amr(in). Salāmun hiya ḥattā maṭla’il-fajr(i).

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Meskipun demikian hingga kini tidak ada yang tahu secara pasti perihal kapan datangnya malam Lailatul Qadar. Namun, Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya yang ingin bertemu dengan malam Lailatul Qadar dapat mencarinya pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda beliau sebagai berikut:

« تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».

Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhori).

Selain itu, Rasulullah SAW akan meningkatkan dan lebih fokus dalam beribadah, terutama ketika memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah R.A sebagai berikut ini :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari )
Kisah Rasulullah SAW di Malam Lailatu sebuah kisah menceritakan kala itu Rasulullah SAW sedang beri’tikaf semalam suntuk selama berhari-hari di akhir bulan Ramadhan. Tidak sedikit para sahabat yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Melihat Rasulullah SAW menunaikan sholat para sahabat pun mengikuti dan ketika Rasulullah SAW menengadahkan tangan untuk berdoa mereka pun turut mengikuti dan mengamini doa dari Rasulullah SAW.

Kala itu langit terlihat mendung dan tidak ada bintang. Tubuh Rasulullah SAW dan sahabat pun tertiup oleh angin. Dalam riwayat menyebutkan kejadian itu terjadi pada 27 Ramadhan.

Tiba-tiba saja hujan turun dengan deras ketika Rasulullah SAW dan para sahabat tengah bersujud. Masjid itupun akhirnya tergenang oleh air hujan mengingat masjid itu tidak memiliki atap.

Kondisi yang demikian membuat salah seorang sahabat berniat untuk berteduh dan membatalkan sholatnya. Namun, tidak jadi ia lakukan karena melihat Rasulullah dan sahabat yang lainnya tetap khusyu dalam bersujud dan tidak beranjak sedikit pun.

Air pun akhirnya semakin mengenangi masjid, tetapi Rasulullah SAW sama sekali tidak bergerak ia masih khusyu dalam bersujud. Ternyata dalam sujudnya Rasulullah SAW melihat cahaya ilahi dan keindahan. Beliau takut apabila bergerak apa yang beliau lihat akan menghilang.

Beberapa sahabat terlihat tidak kuat dan menggigil karena kedinginan. Setelah Rasulullah SAW mengangkat kepalanya hujan pun seketika langsung berhenti.

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW, Anas Bin Malik bangun dari tempat duduknya dan berlari mengambilkan kain kering untuk Rasulullah SAW. Namun, Rasulullah mencegahnya dan berkata sebagai berikut:

“Wahai Anas Bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *